Simulasi Penanganan Kebencanaan bagi Disabilitas Dalam Rangka Memperingati Hari Disabilitas 2025

Kegiatan Simulasi Penanganan Kebencanaan bagi Disabilitas terkait isu Perubahan iklim merupakan Rencana Tindak Lanjut (RTL) bagian dari Penguatan KK untuk Penyedian Layanan Komunitas (kekerasan dan perlinsos), Advokasi Kebijakan, Partisipasi Politik dan isu climate change di Kota Parepare. Hal ini juga sebagai momen Hari Disabilitas Internasional di buka oleh Kepala BPBD, Rasdy Adam, mewakili Wali Kota Parepare di Kantor BPBD Parepare, 3 Desember 2025.

Kepala Pelaksana BPBD Parepare Rasdy Adam, menegaskan bahwa disabilitas memiliki tempat special dalam pemerintah kota. Ia memuji semangat perjuangan dan ketangguhan para penyandang disabilitas. “Peringatan ini adalah momentum untuk menegaskan komitmen Parepare, untuk memberikan hak-hak disabilitas mendapatkan layanan yang adil” saya ingi nmemastikan bahwa tidak ada satupun warga Parepare, yang tidak siap dalam menghadapi sistuasi kebencanaan,’ tegas Rasdy.

Dewan Pembina PPDI Kota Parepare, Iqbal Rahim Gani, mengungkapkan rasa bangganya atas terselenggaranya kegiatan ini. “Saya bangga dan berterimakasih kepada stakeholder terkait, yang meracik kegiatan ini, dengan gotong royong difabel, walaupun punya kekerangan, namun tak bisa dipungkiri banyak kelebihan,” ujarnya.
Iqbal juga menyoroti tantangan pendataan disabilitas ditingkat kelurahan,”teman-teman difabel yang ada ditingkat kelurahan, kami tidak dapat deteksi karena kurangnya database,” Jelasnya.

Selanjunya Simulasi mitigasi Kebencanaan bagi Disabilitas, dimana diawali penjelasan singkat terkait mitigasi atau pencegahan kebencanaan bagi disabilitas oleh Baharuddin dari BPBD dan Agus dari DIKSAR Parepare. Baharuddin menjelaskan bagaimana kita senantiasa waspada dan jangan panik ketika bencana datang. Karena bencana tiba-tiba datang dan kapan saja, sehingga diperlukan kesiapan diri dalam menghadapi Gempa, tsunami, Banjir, Kebakaran dan kecelakaan kapal laut.

“untuk gempa, upayakan cari pelindung di bawah meja kalau dalam rumah dan menjaga kepala atau pada tiang dianggap kuat. Hal ini untuk menghidari diri dari reruntuhan bangunan. Atau sempat keluar dari rumah mencari halaman yang luas” jelas Baharuddin.
Beliau juga menjelaskan pentingnya menyediakan tempat air botol besar jika sewaktu terjadi tsunami atau banjir bandang atau ditengah laut digunakan sebagai pelampung, jika tidak mendapatkan pelampung. Demikian hal tsunami terjadi hindari Pantai lari menjauh ketempat lebih tinggi. Begitupun terjadi kebakaran mesti mengenal lingkungan untuk evakuasi. “intinya jangan panik menghadai bencana” jelasnya.

Sementara Agusalim dari BASARNAS, lebih memberikan pemahaman bagaimana terjadi bencana pada saat Tim SAR melakukan pencarian dan evakuasi perlu mencari alat pentungan untuk membunyikan agar Tim SAR dapat mengetahui posisi anda berada. Demikian hal ditengah utang tersesat nyalakan api kecil, sebagai tanda bagi Tim SAR melalukan pencarian ataukah mencari alur Sungai memudahkan untuk menemukan pemukiman penduduk.

Selanjutnya diperkenalkan alat-alat yang ada di ruang BPBD terkait peralatan digunakan dalam penanganan kebencanaan. Kemudian simulasi menggunakan pelampung dan perahu karet, dimana diminta 8 relawan untuk memperagakan perahu karet tersebut dipandu TIM BASARNAS.
Simulasi ini terlaksana berkat koloborasi solid antara Pemkot Parepare, YLP2EM-BaKTI,HWDI, Gerkatin, PPDI dan Forum Media Parepare. Sinergi lintas stakeholder ini dinilai krusial untuk memastikan disabilitas mendapat perlindungan optimal saat bencana terjadi.

Kegiatan bertema”Mitigasi Berkeadilan Perlindungan Setara bagi Penyandang Disabilitas” ini menjadi bukti komitmen Kota dalam melindungi seluruh warga tanpa dikecualikan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *